Riau, 2003
Namanya Nu’man. Bapak 45 tahun ini sosok yang pendiam. Saat berjabat tangan dengannya, dia hanya menyebut namanya dengan muka sedikit tertunduk. Ia tidak menonjol diantara orang-orang yang memakai seragam yang sama. Dia sosok kebanyakan pegawai di BKSDA Riau. Tujuanku datang ke kantor itu untuk meminta ijin masuk hutan di Basilam Baru, Dumai. Ada cerita pilu yang mengusik hati disana. Beberapa warganya diserang harimau yang mengamuk.
Tak disangka, Pak Nu’man inilah yang ditugasi menemani aku untuk masuk hutan. Siang itu juga kamipun berangkat menuju Dumai, dengan Pak Nu’man yang memegang kemudi. Aku hanya berpikir, mau masuk hutan kok ditemani sopir yang sudah ‘uzur’. Satu jam pertama perjalanan belum ada suara terdengar. Aku bingung mau memulai pembicaraan dari mana, dengan bapak yang pendiam ini.
Begitu memasuki masuk kota Duri, dia minta ijin untuk beristirahat. Dia pun meminggirkan mobil. Kemudian dia turun membeli koran. Koran? Ya, dia membeli koran dan membacanya, dia beralasan belum baca koran hari ini. Hebat juga pikirku, seorang sopir BKSDA rajin baca koran.
20 menit kemudian, koran dilipat kembali dan kamipun melanjutkan perjalanan. Masih dalam diam. Lama-lama kelu juga, aku lempar pertanyaan soal pipa besar yang terpasang di sepanjang jalan Rumbai-Dumai. Diapun mulai mulai bercerita tentang pipa minyak milik penambang minyak internasional itu, bagaimana dulu petrodolar itu dibangun, hingga kemiskinan abadi warga sekitar tambang minyak ini. Sampai di Dumai sudah menjelang sore.
Keesokannya, bersama beberapa jagawana, kamipun masuk ke Basilam Baru. Sebelumnya Pak Nu’man bilang. selesai tak selesai pekerjaan di hutan pada hari itu, kami wajib kembali ke penginapan di Dumai. Aku mencoba menawar untuk tidur di rumah warga terdekat. Dia hanya bilang keselamatanku tanggung jawabnya. Untuk sementara aku menurut saja.
Rombongan mulai bergerak ke tujuan dengan mobil harian jagawana yang dobel gardan. Jalanpun sudah tak beraspal. Begitu melewati perkampungan perkebunan, semua orang bersorak, bertepuk tangan. Aneh, ada apa ini? Usut punya usut, Pak Nu’man inilah arsitek penangkapan beberapa harimau yang menyerang warga. Tepuk tangan itu sebagai bentuk apresiasi warga atas kerja kerasnya. Hebat, orang tua yang pendiam ini salah satu arsitek penangkapan harimau. Dia penyelamat warga. Dia pahlawan. Pelajaran pertama aku dapat darinya, rendah hati!
Terdorong keingintahuan, aku bertanya pada para jagawana dalam rombongan ini. Siapa seorang Nu’man ini? Jawabnya adalah laki-laki pendiam itu adalah ahli gajah pertama yang dipunyai bangsa ini. Wow.. kok bisa seorang ahli gajah menjadi penangkap harimau?
Kisah Nu’man remaja diawali dengan bekerja sebagai jagawana di Ujung Kulon, selepas sekolah menengah. Tugasnya mengawasi habitat badak bercula satu. Bertahun-tahun dia mengabdikan diri. Tugasnya itu membuat dia harus berurusan dengan banyak orang, termasuk peneliti asing. Kecintaan Nu’man pada urusan konservasi hewan langka inilah, yang membuatnya memperoleh penawaran beasiswa ke Afrika. Jadilah Nu’man muda belajar tentang gajah. Tak hanya di Afrika, Nu’man juga belajar di Thailand untuk memperdalam ilmunya tentang hewan besar ini. Jadilah dia ahli gajah. Pelajaran kedua darinya, kerja keras!
Karir akhirnya membawanya ke Riau. Tapi saat itu, BKSDA Riau lebih disibukkan soal harimau yang ngamuk dan menyerang warga daripada soal gajah. Nu’manpun harus belajar lagi tentang harimau. Pelajaran ketiga darinya, belajar dan terus belajar!